Wanita dan Kariernya di Indonesia

 Tahun 2018 adalah tahun yang terbilang cukup ramai, dimulai dari dunia perpolitikan yang memanas hingga pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang jumlah pendaftarnya membludak. Tidak hanya di pertelevisian nasional dan dunia maya, keramaian ini juga terasa hingga ke sebelah kamar penulis. Hal ini dikarenakan kakak dari penulis juga mencoba peruntungan untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bukan mengarah ke panasnya perpolitikan Indonesia, tulisan ini akan lebih membahas soal dunia pasca kampus, khususnya dunia kerja dari sisi pandang seorang calon ibu rumah tangga di masa depan. 

Bekerja di Indonesia
Sebagai mahasiswi tingkat akhir yang sedang menjalankan penelitian, fenomena seperti pembukaan CPNS tahun ini cukup menjadi distraksi, mengingat penulis juga akan memasuki dunia kerja tidak lama lagi. Jumlah pendaftar yang membludak membuat pihak penyelenggara memperketat persyaratan untuk menekan angka pendaftar. Banyak peserta yang belajar sekuat tenaga, namun ada juga yang rela merogoh kocek dalam – dalam demi mencapai kondisi finansial yang mantap nan aman. Besarnya minat masyarakat Indonesia untuk menjadi ‘pelayan masyarakat’ seolah mengisyaratkan bahwa PNS adalah pekerjaan terbaik yang bisa kita dapatkan.

Goal utama para Generasi X ini kerap diperdebatkan oleh banyak pihak, mengingat perkembangan zaman yang begitu cepat dan berbedanya generasi yang memasuki usia produktif, pekerjaan sebagai PNS dinilai sudah tidak cocok lagi untuk dijadikan suatu goal besar yang ingin dicapai. Tetapi, terbaik atau tidaknya suatu pekerjaan pada akhirnya akan dikembalikan pada masing – masing pribadi. Tergantung kondisi apa yang sedang dihadapi, apakah hanya masalah finansial? Apakah berkaitan dengan cita – cita yang diingini? Atau mungkin tergantung permintaan orang yang dikasihi?

Pekerjaan yang ada saat ini memang tidak terbatas, sangat bervariasi dengan tidak lagi melihat batas negara bahkan gender. Saat ini bisa dengan mudahnya kita menemui wanita yang bekerja dan adalah hal yang menyenangkan bagi penulis untuk mengetahuinya, karena ini berarti perempuan kini bisa mewakili golongannya untuk menyampaikan aspirasi, para istri bisa membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga dan mahasiswi bisa bekerja untuk menambah uang sakunya.

Wanita Karier
Penulis adalah seorang perempuan yang dibesarkan jauh lebih lama dengan seorang ibu yang berkarier di dunia perbankan. Hal ini menjadi salah satu pendorong bagi penulis dalam memiliki kemauan lebih besar untuk bisa berkarier selepas lulus dari universitas di kotanya. Namun, memiliki impian untuk berkarier juga menimbulkan pertanyaan – pertanyaan krusial yang akan sangat berpengaruh terhadap kewajibannya sebagai seorang wanita.

“Kalau bekerja, bagaimana cara kamu mengurus keluarga?”

“Bagaimana kalau anaknya kurang perhatian?”

“Cuti melahirkan di Indonesia sebentar sekali, memangnya kamu sanggup?”

Mungkin pertanyaan – pertanyaan diatas masih terlalu jauh bagi perempuan yang ingin membangun kariernya terlebih dahulu. Namun, akan kembali timbul satu pertanyaan besar:

“Kalau menikah dan tidak diizinkan suami, memangnya kamu rela melepas karier yang sudah dengan susah payah kamu bangun?”

Pertanyaan semacam itu cukup kuat untuk menimbulkan kekhawatiran bagi seorang perempuan berumur tanggung yang masih merencanakan kehidupan pasca kampusnya. Kemudian, pertanyaan itu juga bisa terus berkembang semakin jauh sehingga terlalu kompleks untuk disanggah jika akar permasalahannya tidak segera diselesaikan.

Berkarier yang Bertanggungjawab
Semua orang memiliki hak yang sama, termasuk dalam hal bekerja atau berkarier. Namun, sebagai perempuan, kita juga harus tetap bertanggung jawab dengan seluruh kewajiban yang dimiliki. Penulis mengutip kalimat seorang gadis kecil dalam lomba debat bahasa inggris:

“Today, the gap between you and the world are just a tip of your finger to your gadget”

Kita harus sadari bahwa dengan kemajuan teknologi saat ini, tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk dapat melakukan banyak hal, kecuali tidak adanya niat dari dalam diri. Kita mampu membuka usaha secara online jika ingin mencoba membangun perusahaan sendiri. Melamar pekerjaan tanpa harus berpergian kesana – kemari bukan lagi hal yang tidak mungkin, saat inipun juga terdapat pekerjaan yang bisa dilakukan dalam jarak jauh sehingga tidak mengharuskan pekerjanya untuk pergi ke kantor. Salah satu platform yang dapat membantu kita dalam berkarier di perusahaan menjadi freelancer seperti yang sudah dijelaskan adalah Glints (www.glints.com)

Dengan adanya platform seperti ini akan sangat membantu perempuan – perempuan di luar sana yang memiliki keterbatasan dalam melamar pekerjaan, seperti keterbatasan kendaraan, biaya percetakan, dan lain sebagainya.

Selain melalui Glints (www.glints.com), penulis juga sedang mendalami minatnya dalam wirausaha sosial, sehingga diharapkan agar wirausahanya juga mampu mengatasi permasalahan berkarier pada dunia pasca kampusnya.

Komentar